Hi Urbie’s!, bagaimana jika keresahan tentang bumi tidak hanya berhenti menjadi unggahan di media sosial, tetapi menjelma menjadi karya seni, cerita lokal, musik, hingga ruang diskusi yang menggerakkan perubahan? Gagasan inilah yang dibawa KINARYA Exhibition: Amplifying Youth Voices Through Art on Just and Inclusive Green Transition, sebuah pameran yang mempertemukan suara anak muda dalam merespons krisis iklim melalui pendekatan kreatif.

Berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 di Semesta’s Gallery, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, KINARYA Exhibition mengajak publik melihat krisis iklim dari sudut pandang mereka yang mengalaminya secara langsung. Bukan sekadar membicarakan kenaikan suhu atau perubahan lingkungan sebagai persoalan jauh di masa depan, pameran ini mengangkat cerita tentang banjir berulang, sulitnya akses air bersih, pencemaran, hilangnya ruang hidup, hingga tekanan yang dihadapi masyarakat adat.

Di tengah persoalan tersebut, anak muda tidak ingin hanya ditempatkan sebagai generasi yang kelak menanggung dampaknya. Mereka juga hadir sebagai pencipta gagasan, penjaga pengetahuan lokal, dan bagian dari gerakan yang berupaya membangun masa depan lebih adil.

Ketika Krisis Iklim Menjadi Cerita yang Dekat dengan Kehidupan

Krisis iklim sering kali terdengar seperti istilah besar yang dibahas dalam laporan, konferensi, atau pertemuan tingkat tinggi. Padahal, dampaknya bisa dirasakan melalui pengalaman sederhana: cuaca yang semakin panas, rumah yang terendam banjir, air bersih yang sulit diperoleh, atau lingkungan tempat tinggal yang perlahan berubah.

Bagi anak muda, pengalaman tersebut menjadi titik awal untuk bertanya, bersuara, dan menciptakan karya.

Mereka menerjemahkan persoalan sosial-ekologis melalui berbagai medium, mulai dari seni visual, zine, musik, cerita lokal, kampanye digital, hingga arsip komunitas. Pendekatan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami isu lingkungan melalui pengalaman manusia, bukan semata-mata angka dan istilah teknis.

Urbanvibes article banner

KINARYA Exhibition menjadi tempat bagi beragam ekspresi tersebut untuk bertemu. Melalui karya-karya yang dipamerkan, pengunjung diajak melihat bagaimana persoalan lingkungan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, identitas komunitas, serta hak masyarakat untuk mempertahankan ruang hidupnya.

Menghubungkan Seni, Tanah, dan Solidaritas Iklim

Kurator KINARYA Exhibition, Arami Kasih, menjelaskan bahwa pameran ini berangkat dari perjuangan masyarakat untuk mempertahankan tanah, rumah, dan cara hidup mereka.

“IRL lahir dari perjuangan masyarakat untuk bertahan hidup dan mempertahankan hubungan dengan tanah, rumah, serta cara hidup mereka. Melalui karya seni, kami ingin mempertemukan pengalaman dan suara komunitas terdampak dari berbagai wilayah, sekaligus membangun solidaritas iklim untuk bersama-sama menjaga tanah, kehidupan, dan masa depan kita,” ujar Arami.

Konsep kuratorial pameran ini dirangkum melalui istilah IRL, yang memiliki tiga makna: In Real Life, In a Rapidly-changing Landscape, dan In Relation to Land.

Ketiganya membuka cara pandang yang saling terhubung. Krisis iklim berlangsung dalam kehidupan nyata, terjadi di tengah lanskap yang berubah cepat, dan tidak bisa dilepaskan dari hubungan manusia dengan tanah serta lingkungan tempat mereka hidup.

Pameran ini menghadirkan karya dari 20 seniman dan kelompok seniman muda dari Indonesia dan berbagai negara ASEAN. Karya-karya tersebut dipilih melalui proses open call dan kurasi, dengan perspektif yang beragam mengenai perubahan lingkungan, pengalaman komunitas, relasi manusia dengan alam, dan keadilan dalam transisi hijau.

Anak Muda Bukan Sekadar Pewaris Krisis Iklim

Muhammad Fadly Arrasyid, Resource Hub Officer Jejaring Lokadaya, menekankan bahwa anak muda juga menjadi bagian dari masyarakat yang saat ini merasakan ketidakadilan ekologis.

“Anak muda bukan sekadar generasi yang akan mewarisi dampak krisis iklim. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang hari ini juga merasakan perubahan lingkungan, kehilangan ruang hidup, dan berbagai ketidakadilan ekologis,” ujar Fadly.

Baca juga:

Pernyataan tersebut menempatkan anak muda bukan hanya sebagai kelompok yang perlu diedukasi mengenai perubahan iklim, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki pengalaman dan gagasan untuk ikut membentuk solusi.

Di berbagai komunitas, sekolah, kampus, kolektif seni, organisasi masyarakat sipil, dan gerakan digital, anak muda menggunakan pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka untuk menyampaikan persoalan lingkungan. Karya kreatif menjadi salah satu cara untuk menghubungkan pengalaman lokal dengan percakapan yang lebih luas.

Melalui KINARYA, cerita-cerita tersebut mendapat ruang untuk didengar, dibagikan, dan diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai masa depan yang lebih inklusif.

Tak Hanya Pameran, Ada Climate Story dan Aktivitas Komunitas

KINARYA Exhibition tidak hanya menghadirkan karya seni untuk dinikmati pengunjung. Program ini juga menyediakan sejumlah aktivitas yang mendorong pertukaran pengalaman dan gagasan.

Salah satunya adalah Climate Story, yang memuat cerita, kutipan, dokumentasi, serta pengalaman anak muda dan komunitas dalam menghadapi krisis iklim di kehidupan sehari-hari. Format ini membawa isu lingkungan lebih dekat melalui suara mereka yang mengalami dan mengamati perubahan di sekitarnya.

Pengunjung juga dapat mengikuti diskusi lintas generasi, tur pameran, serta KINARYA Platform Showcase. Aktivasi jejaring komunitas turut menghadirkan diskusi tematik, lokakarya, dan aktivitas interaktif di area taman Semesta’s Gallery.

Rangkaian tersebut memperluas fungsi pameran dari sekadar ruang apresiasi seni menjadi tempat bertukar pengetahuan dan membangun koneksi antarkomunitas.

Pameran resmi dibuka pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 10.00 WIB, dilanjutkan dengan press tour pukul 10.30 WIB. Acara terbuka untuk publik selama dua hari, mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, dengan target sekitar 500 pengunjung.

KINARYA dan Imajinasi tentang Masa Depan yang Lebih Adil

KINARYA merupakan inisiatif yang mempertemukan karya, gagasan, pengetahuan lokal, praktik baik komunitas, serta jejaring masyarakat sipil. Platform ini juga diposisikan sebagai resource hub bagi anak muda untuk mengembangkan karya, berbagi pengetahuan lokal, menemukan solusi berbasis komunitas, dan membangun kolaborasi sosial.

KINARYA Exhibition merupakan bagian dari Program CO-EVOLVE 2 yang dikelola Jejaring Lokadaya Nusantara, ASEAN Youth Forum (AYF), dan Climate Corner, dengan dukungan pendanaan bersama Uni Eropa dan Yayasan Penabulu.

Pada akhirnya, menghadapi krisis iklim tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa bumi sedang berubah. Perlu ada ruang untuk mendengarkan pengalaman masyarakat, memahami dampaknya secara lebih dekat, dan mempertemukan berbagai gagasan untuk mencari jalan ke depan.

Lewat KINARYA Exhibition, seni menjadi bahasa untuk menyampaikan keresahan sekaligus membayangkan kemungkinan baru. Sebab, Urbie’s!, anak muda bukan hanya sedang berbicara tentang bumi yang ingin mereka tinggali kelak. Mereka juga sedang menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari cerita, karya, dan keberanian untuk bersuara hari ini.