Hi Urbie’s!, Di Ciomas, Kabupaten Bogor, ada seorang siswi kelas 12 yang sempat berpikir untuk berhenti sekolah bukan karena kehilangan semangat belajar, melainkan karena selembar ijazah yang belum bisa ia ambil. Namanya Agisna Putri Sanjaya. Di tengah perjuangannya menyelesaikan pendidikan SMK jurusan Akuntansi, Agis harus menghadapi kenyataan bahwa ijazah SMP miliknya masih tertahan akibat tunggakan biaya sekolah.
Bagi sebagian orang, ijazah mungkin hanya dokumen yang tersimpan di dalam map. Namun, bagi Agis, dokumen itu adalah salah satu kunci untuk melanjutkan langkah menuju masa depan. Ia bercita-cita menjadi psikolog, tetapi persoalan biaya sempat membuat impiannya terasa semakin jauh.
Kabar baik datang ketika Program Tebus Ijazah dari Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa hadir membantu keluarganya. Melalui penyaluran zakat, harapan Agis untuk menuntaskan pendidikan kembali terbuka.
kisah Agis mengingatkan kita bahwa terkadang, yang dibutuhkan seorang anak untuk terus melangkah bukan sekadar motivasi, tetapi juga bantuan nyata agar keadaan ekonomi tidak merampas kesempatan mereka untuk bermimpi.
Ketika Selembar Ijazah Menjadi Penghalang Masa Depan
Sebagai siswi kelas 12, Agis sudah mulai mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan yang dijadwalkan pada Maret 2027. Namun, pada September lalu, pihak sekolah meminta ijazah SMP sebagai salah satu persyaratan administrasi. Agis belum bisa memenuhinya karena masih ada biaya yang belum terlunasi di sekolah sebelumnya.
Ia memilih tidak langsung menceritakan persoalan itu kepada ibunya. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena tak ingin menambah beban keluarga yang selama ini sudah berjuang keras memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Aku belum bisa ambil karena belum ada uang. Dan aku belum langsung bilang ke Ibu karena nggak mau membebani mereka,” tutur Agis.
Bahkan, ia sempat memikirkan kemungkinan berhenti sekolah jika kondisi keuangan keluarganya tidak memungkinkan. Beruntung, sang ibu dan kakaknya terus memberikan dukungan. Mereka mengingatkan Agis agar tetap fokus belajar dan tidak menyerah pada keadaan.
Bagi Agis, ijazah itu bukan sekadar persyaratan administratif. Dokumen tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya, sekaligus langkah yang harus ia selesaikan sebelum melanjutkan perjalanan menuju cita-citanya.
Pandemi Membuat Ekonomi Keluarga Terpuruk
Kesulitan keluarga Agis mulai terasa berat pada 2020, ketika pandemi Covid-19 mengguncang kehidupan banyak keluarga Indonesia. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh pabrik terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) tanpa menerima pesangon.
Sejak saat itu, penghasilan keluarga berubah drastis. Biaya sekolah kerap tertunggak, sementara kebutuhan makan dan keperluan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Kakak Agis yang baru lulus sekolah pun mengambil pekerjaan serabutan untuk membantu keluarga.
Ibunya, Eti, juga berusaha mencari penghasilan dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Ia bahkan harus mencari pinjaman agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
“Zaman Covid-19 lalu banyak sekali perencanaan yang berubah. Tiap ada bayaran SPP selalu nunggak, walaupun bayar tapi dicicil,” kenang Eti dengan haru.
Di tengah situasi tersebut, Eti tetap berupaya menjalin komunikasi dengan pihak sekolah dan meminta kelonggaran waktu pembayaran. Menurutnya, pihak sekolah selama ini memberikan keringanan yang membantu anak-anaknya tetap melanjutkan pendidikan.
Perjuangan Eti memperlihatkan sisi lain dari persoalan biaya pendidikan. Ada orang tua yang terus berusaha mencari jalan keluar, tetapi kemampuan ekonomi keluarga tidak selalu mampu mengejar kebutuhan yang harus dibayar.
Baca juga:
- Krisis Air Bersih di Jateng, Dompet Dhuafa Salurkan 42.000 Liter untuk Warga Jepara dan Grobogan
- Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 Dorong Kemandirian Bangsa
Zakat Hadir untuk Menjaga Asa Pelajar
Titik terang muncul ketika Eti memperoleh informasi tentang Program Tebus Ijazah dari LPM Dompet Dhuafa. Setelah menerima informasi tersebut, tim LPM melakukan verifikasi dan asesmen langsung ke kediaman keluarga Agis di Ciomas, Bogor.
Tim Program LPM Dompet Dhuafa, Sudita, menjelaskan bahwa bantuan diberikan dengan mempertimbangkan kondisi keluarga serta semangat belajar Agis.
Berdasarkan hasil asesmen, Agis dikenal sebagai siswi yang santun, memiliki tekad kuat, dan menunjukkan prestasi akademik yang baik. Nilai rata-rata yang diraihnya berada di kisaran 80 hingga 90.
“Bantuan ini diberikan karena ini bukan sekadar masalah kendala ekonomi, melainkan tentang menjaga harapan seorang anak berprestasi agar tidak terputus,” jelas Sudita.
Melalui program tersebut, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dikelola untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk pelajar dari keluarga kurang mampu yang menghadapi hambatan biaya pendidikan.
Dalam ajaran Islam, zakat memiliki sasaran penerima yang telah ditentukan, termasuk fakir dan miskin. Pengelolaan dana zakat secara tepat sasaran dapat menjadi salah satu jalan untuk membantu keluarga menghadapi kesulitan, sekaligus menjaga agar anak-anak tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.

Penahanan Ijazah dan Tantangan Akses Pendidikan
Kisah Agis juga menggambarkan persoalan yang lebih luas: ketika tunggakan biaya membuat ijazah belum bisa diambil, kesempatan seorang pelajar untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja dapat ikut terhambat.
Dalam materi yang disampaikan mengenai program ini, data Ombudsman RI periode 2020–2024 disebut menunjukkan bahwa pengaduan terkait penahanan ijazah di SMA dan SMK swasta secara konsisten masuk dalam tiga besar aduan pelayanan publik bidang pendidikan. Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat adanya puluhan ribu ijazah milik siswa dari keluarga kurang mampu yang masih tertahan di sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan biaya pendidikan tidak berhenti ketika kegiatan belajar mengajar selesai. Dokumen kelulusan juga dapat menentukan seberapa mudah seseorang mengakses kesempatan berikutnya.
Bagi keluarga dengan kemampuan finansial terbatas, tunggakan yang tampak kecil bagi sebagian orang bisa menjadi beban besar. Ketika ijazah belum dapat diambil, hambatan itu berisiko memperpanjang kesulitan yang sudah mereka alami.
Karena itu, bantuan seperti Program Tebus Ijazah menjadi penting sebagai upaya membuka kembali akses yang sempat terhambat oleh persoalan ekonomi.
Kembali Menatap Mimpi Menjadi Psikolog
Kini, Agis memiliki kesempatan untuk melanjutkan langkahnya dengan lebih tenang setelah persoalan ijazah SMP yang tertahan mendapatkan bantuan penyelesaian melalui program tersebut. Ia masih harus menyelesaikan pendidikan SMK dan mempersiapkan ujian kelulusan pada 2027, tetapi salah satu hambatan yang sempat membuatnya ingin menyerah kini telah teratasi.
Mimpi menjadi psikolog pun kembali ia genggam. Perjalanan menuju cita-cita itu tentu belum selesai, tetapi Agis tidak lagi harus menghadapi persoalan ijazah SMP seorang diri.
Hi Urbie’s!, dari kisah Agis kita belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, nilai rapor, atau ujian kelulusan. Ada perjuangan keluarga di baliknya, ada anak-anak yang berusaha bertahan di tengah keterbatasan, dan ada harapan yang perlu dijaga agar tidak padam sebelum sempat tumbuh.
Lewat zakat yang disalurkan secara tepat sasaran, bantuan bukan sekadar menyelesaikan persoalan dokumen. Ada kesempatan yang kembali terbuka, ada beban keluarga yang berkurang, dan ada seorang pelajar yang bisa kembali memusatkan perhatian pada masa depannya.
Sebab, bagi Agis, selembar ijazah bukan akhir dari perjuangan. Itu adalah satu langkah penting agar mimpinya menjadi psikolog tetap memiliki jalan untuk diwujudkan.




